Sabtu, 05 Maret 2011

Selasa, 01 Maret 2011


MENGENANG

BARANI NASUTION YANG WAFAT 16 FEBRUARI 2011 LALU DI JAKARTA

Oleh : Darwis Rifai Harahap

Hape di saku celana penulis berdering. SMS dari Baharuddin Saputra yang mengabarkan tentang Barani Nasution, tokoh teater Sumatera Utara yang berusia 69 tahun telah di panggil Khaliknya di Jakarta, Rabu jam 4 pagi di bilangan Cikeas Bogor. Almahrum di kebumikan hari itu juga usai sholat ashar di pemakaman umum Cikeas.

Tak lama kabar sms dari Baharuddin Saputra singgah di hape penulis, selang beberapa menit kemudian kabar yang sama lewat sms kembali berdering. Innalillah....Rekan Barani Nasution tidak sekedar teman dalam berkesenian, tapi beliau juga adalah seorang “guru”, aktor, sutradara dan penulis naskah yang handal. Bila ia bicara, lidahnya yang masih kental dengan aksen Mandailingnya walau ia cukup lama bermukim di Jogya, ia juga dapat berbahasa Jawa walau tidak fasih benar. Bahasa Inggeris sangat ia kuasai. Bersama beberapa teman seniman, beliau sempat membuka semacam club diskusi berbahasa Inggeris di Taman Budaya Sumatera Utara sekitar tahun 1990-an.

Kini ia telah tiada. Yang terbayang di benak penulis adalah wajahnya yang di tumbuhi berewok tebal yang telah memutih. Tubuhnya yang kecil, nada suaranya yang berat, kulitnya yang sawo mateng, sekilas ia tampak seperti saudara kita asal dari Kampung Keling. Barangkali karena kemiripannya itu jugalah sutradara Muchtar memberinya peran sebagai sais kereta lembu keturunan keling dalam film Buaya Deli yang di produksi sekitar tahun 1970-an.

Barani Nasution penulis kenal di pertengahan tahun 1969 saat usai pementasan naskah “ Yang Di Dalam “ karya dan Sutradara Burhan Piling di Gedung Kesenian Jalan Bali Medan, sosok laki-laki berewok yang tak pernah terlihat hadir di Gedung Kesenian Medan, dengan bicaranya yang lantang, sistematis, tampil dengan bahasa yang lugas membahas pertunjukan, dan tampilnya sosok asing yang di damping Surya Darma Lubis ( alm) itu membuat hampir semua mata peserta diskusi tertuju kepadanya. Laki-laki berewok yang bertubuh kecil itu adalah Barani Nasution, salah seorang anggota teater Bengkel Jogya Pimpinan WS. Rendra. Pantas saja bicaranya begitu lantang dan sangat berkesan. Usai diskusi perkenalan semakin akrab dan omong-omong non formal dilanjutkan sambil santap malam di warung siang malam di simpang Jalan Bali dan Jalan Thamrin.

Bincang-bincang dengan Barani Nasution yang wajahnya ditebali dengan jambang yang subur itu, terkesan ia memang sarat dengan ilmu tentang seni. Tidak heran di awal perkenalan kami di Gedung Kesenian usai pementasan, keakraban berlanjut dengan perencanaan untuk mementaskan “ Kasidah Barzanzi” yang telah di gelar Bengkel Teater Rendra di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Sayang. Izin untuk mementaskan tak didapat dari WS. Rendra. Bersama Teater Nasional Medan akhirnya Barani Nasution dengan keseluruhan pemain direkrut dari Teater Nasional Medan secara profesional, pementasan “ MYM” di gelar di Gedung Olah Raga Jalan Veteran Medan selama dua malam berturut-turut dengan menurunkan pemain sekitar lima puluh orang. Sejak itu, nama Barani Nasution yang lahir di Siabu Tapsel 27 Juli 1941 mulai berkibar sebagai seniman teater Sumatera Utara. Pengalaman berteaternya sejak di bangku sekolah menengah atas di tahun 1959 sebagaio pemain di kota kelahirannya. Tahun 1963 ia mulai memberanikan diri bertindak sebagai Sutradara dalam naskah Mutinggo Busye yang berjudul “ Barabah” bersama grup teater Nauli yang ia dirikan ahun 1963.

Selepas mementaskan MYM di Gedung Olah Raga Medan, Barani Nasution mendirikan grup Teater Dionysus tahun 1970. Entah mengapa, dua tahun kemudian Barani Nasution kembali membentuki grup teater yang ia beri nama “ Teater Nuansa Medan“ dan banyak mementaskan naskah-naskah kaliber dunia dan naskah beliau sendiri di pentas arena Tapian daya Medan dan Gedung Utama Taman Budaya Medan di sekitar tahun 70-an dan 80-an.

Ia juga menerjemahkan drama-drama asing ke dalam bahasa Indonesia, beberapa diantaranya Medea, Aluetis, Theree Sisters, Orang-orang Resah, Dua Belas Pemberang, dan juga menerjemahkan buku-buku pelajaran Teater karya Stanis Lavsky dan Oscar J.Brockett.

Pensiun dari Pegawai Bidang Kesenian Sumatera Utara, Barani Nasution hijrah ke Jakarta. Di beberapa senetron arahan Khairul Umam yang pernah tayang di beberapa stasiun televisi, Barani Nasution berkesempatan tampil sebagai pemain pembantu.

Kini Barani Nasution telah tiada. Tidak saja anak dan isteri serta cucunya yang kehilangan, tapi semua rekan seniman yang yang ada di Taman Budaya, yang terlanjur akrab dengan sosok yang pernah menyumbangkan ilmunya untuk kemajuan Drama di IKIP Medan sejak tahun 1985 sampai dengan 1991, telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Hanya doa yang pas untuknya, moga ia mendapat tempat yang layak di sisiNya. Amin.

Kamis, 20 Januari 2011

KABAR DUKACITA

Telah berpulang ke Rahmatullah Bapak Z. Pangaduan Lubis, sastrawan, teaterawan Sumatera Utara, lahir maret 1937 di Muara Sipongi - tutup usia 19 Januari 2011 di Rumah Sakit Haji Medan. Rumah duka Jalan M.Yakob Gg. Belimbing 2 Medan Perjuangan'

Di kebumikan di perkuburan Gg.Sado. Zenazah di sholatkan di Mesjid Al-Falah Gg.Sado.

Moga amal ibadah beliau ditempatkan ditempat yang sebaik-baiknya disisiNya. Amin.

Jumat, 07 Januari 2011

LOKA KARYA TEATER AKHIR TAHUN 2010


BEKERJA SAMA DENGAN iNSTANSI PARAWISATA BUDAYA, TANGGAL 15 DESEMBER 2010 DI RUANG PAMERAN TAMAN BUDAYA DISELENGGARAKAN LOKA KARYA TEATER DENGAN PEMBICARA TOKOH TEATER SUMATERA UTARA D. RIFAI DAN ARDI PARMIN DALAM BIDANG ARTISTIK DAN TATA RIAS PANGGUNG.

LOKA KARYA YANG DIIKUTI PELAJAR DAN MAHASISWA ITU DIRASAKAN SANGAT SINGKAT UNTUK DAPAT MENGUASAI MATERI LOKA KARYA YANG SEHARUSNYA DISELNGGARAKAN PALING TIDAK SATU MINGGU. NAMUN BAGI ANGGOTA GRUP TEATER YANG SUDAH PERNAH MENDAPAT BIMBINGAN SEBELUMNYA, MATERI TENTANG PENYUTRADARAAN, PENULISAN NASKAH DAN AKTING TIDAK MENJADI MASALAH. NAMUN BAGI PEMULA DIRASAKAN PELATIHAN TERLALU SINGKAT. APALAGI WAKTU SATU JAM UNTUK TATA RIAS JELAS TIDAK MENGHASILKAN APA-APA BUAT SEMUA PESERTA.

DIHARAPKAN, DITAHUN MENDATANG, BILA TUJUAN LOKA KARYA HANYA UNTUK MENGHABISKAN ANGGARAN APBD, SEBAIKNYA LOKA KARYA DISELENGGARAKAN PALING TIDAK TIGA HARI, DAN PESERTA DIINAPKAN AGAR TEORI DAPAT LANGSUNG DIPRAKTEKKAN.

Sabtu, 18 Desember 2010

LST. PATRIA SUM. UTARA .




Lembaga Studi tari Patria yang didirikan Haji Jose Rizal Firdaus, Anjang Nurdin Paitan (alm), M. Gusti Harahap ( Alm) dan M.Yuzli Yar malam tanggal 11 Des.2010 lalu menyelenggarakan loka karya tari, untuk mem-bakukan gerak 9 tari karya Sauti yang pernah populer di tahun 50-an dan 60-an di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Menurut Yuzli Yar, koordinator loka karya, hal ini penting dilakukan karena gerak tari karya Sauti yang sudah betusia lebih 60 tahun, kini ditarikan sudah tidak seseuai lagi dengan gerak tari aslinya. Hal ini diperkuat oleh Haji Jose Rizal Firdaus yang adalah murid Sauti langsung sejak kanak-kanak. Loka Karya dihadiri pelatih, guru tari dan murid sekolah tari SMKI Patria yang didirikan Jose Rizal ditahun 1988 dan berakhir karena ketuiadaan siswa di tahun 1995.

Murid-murid sekolah tari Patria kini sudah ada yang mencapai gelar sarjana seni, dan rata-rata telah memiliki sangar tari sendiri di tempat tinggal masing-masing.

Minggu, 24 Oktober 2010

INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN

ALDIAN ARIPIN

PENYAIR ELIPSIS ITU TELAH TIADA

Oleh : D. Rifai Harahap.

Laki-laki berkulit sedikit gelab itu memasuki halaman Taman Budaya Medan dengan sntai. Sebuah tas kecil berwarna hitam ia kepit di tangannya. Langkahnya lurus menuju kantin. Begitu melihat sosok laki-laki berkulit gelab itu muncul dipusat kesenian Medan aku sepontan bangkit dan menyambut kehadiran laki-laki berkulit gelab itu sambil mengulurkan tanganku padanya. Terakhir aku bertemu dengannya sekitar tahun 1974 saat ia sedang bertugas di Riau sebagai petugas Imigrasi. Awal pertama aku mengenalnya sewaktu dia masih bertugas di Imigrasi Medan, waktu itu ia masih berkantor di Kesawan. Dari Burhan Piliang (Alm) aku dapat tahu sosok laki-laki yang berkulit gelab itu bernama Aldian Aripin. Disamping sebagai pegawai negeri sipil, ia juga adalah seorang penyair. Salah satu buku kumpulan pusi bersama dengan Djohan A Nasution dan Z. Pangaduan Lubis yang berjudul Ribeli 66. Buku itu diterbitkan sendiri oleh Aldian Aripin dengan nama penerbit Sastra Leo Medan.

Tanggal 15 Oktober 2010 lalu, tepatnya hari Jumat, A. Rahim Qahhar yang juga adalah seorang penyair,penulis cerita pendek dan wartawan , mengirimkan sms pada penulis yang isinya mengabarkan bahwa penyair Aldian Aripin telah berpulang sekitar jam 9.00 Wib saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun...Penyair alit itu akhirnya telah memenuhi janjinya setelah sekian lama menderita sakit yang membuat ia tak lagi dapat menuangkan ide-idenya kedalam bentuk tulisan. Ia yang dilahirkan tanggal 1 Agustus 1938 di Kota Pinang, Labuhan Batu, saat p[enulis dan penyair Teja Purnama datang melayat, didepan kami terbaring tenang Bang Aldian Aripin, yang kala hidupnya banyak membantu setiap kegiatan pementasan yang diselenggerakan oleh Teater Nasional Medan sekitar tahun 1968-1969 dan 1970. Bang Aldian Aripin adalah donatur Tena dan perhatiannya pada kegiatan kesenian di Medan ia buktikan sampai ia menjalani masa pensiun di tahun 1995. Sebagai seorang pejabat yang pernah ditempatkan pada posisi penting di beberapa kota , seperti Medan, Pekan Baru, Bagan Siapi-api, Lhokseumawe, Padang dan Jakarta, mantan pejabat teras di instansi Imigrasi itu ternyata tidak berat langkahnya untuk memasuki kantin Taman Budaya dan duduk lesehan di bawah pohon asam demi memberi masukan kepada seniman-seniman muda yang sering mangkal di Taman Budaya Medan. Ia adalah pejabat yang memang benar-benar seniman. Ketulusan dalam berkesenian, ketulusannya dalam membantu setiap kegiatan kesenian, ia buktikan dengan menerbitkan sendiri beberapa buku sastra dan biografi tentang dirinya yang dijilit apik. Tidak itu saja, Aldian Aripin semasa hidupnya juga sangat menyenangi kerja film. Untuk mewujutkan hobinya itu, ia mendirikan perusahan film yang ia beri nama Leo Amatieur Film bersama Burhan Piliang, Khalik Noor, Slamet dan Iskaq S. Leo Amateur Film ditahun 1968 telah memproduksi film cerita yang berjudul “ Tuah Ta “ . Film yang berdurasi sekitar satu jam lebih itu dibuat mempergunakan pita sellouid berukuran 8 mm. Tidak saja semasa bertugas di Medan, kemanapun Aldian Aripin ditugaskan, pertama-tama yang ia cari adalah seniman-seniman yang ada dikota dimana ia ditugaskan. Maka tidak heran, di Pekan Baru, Palembang, Padang, bakat besarnya itu tak pernah padam.

Kini Aldian Aripin telah tiada. Seperti yang ia tuangkan dalam baris puisinya di bawah ini.

Bila gerak surut ke dalam diam

Siang larut ke dalam malam

Putih diserap hitam

Rata.rata.

Bila surut kedalam dia ia tulis tahun 1984. Bentuknya memang sederhana sekali.Tapi lewat pusi pendeknya itu ia mampu mengungkapkan manusia sebagai makhluk yang tertinggi ( karena akal budinya) , yang berpacu dengan waktu serta berpacu dengan dirinya sendiri. Mari kita simak puisi alit Aldian Aripin dibawah ini.

Manusia

Alangkah majunya manusia

Berpacu dengan waktu

Berpacu dengan dirinya

Alangkah sepinya puisi

Berdenyut malam hari

Dalam hati

Kini ia telah berada di tempat peristrahatan terakhirnya. Puisi-puisinya tinggal didunia yang fana ini sebagai ibadah yang akan terus menerangi jalannya dimana tak lagi ada puisi disana. Ia meninggalkan seorang isteri yang bernama Zubaidar Daulay, delapan anak putra dan putri, Amalia, Boris, Calderon, Dessafina, Ezra ( yang juga adalah seorang penyair ), Femmy skotia, Gita Kencana, dan Honore Siampudan.

Setiap yang bernyawa memang harus berurusan dengan kematian. Giliran itu pasti. Seperti yang ia nukilkan lewat puisinya yang berjudul ;

Metafisik

Dunia di luar dunia

Gelombang arwah

Tak terjemba

Luput dari mata

Dunia di luar dunia

Khidmat dan mulia

Dan Dia

Duduk di arasyNya

1970.

Kesanalah sekarang Aldian Aripin menuju, untuknya, dari anak-anak yang ditinggalkannya, ia sangat mengharapkan doa yang tak putus-putusnya. Selamat jalan Bang Aldian Aripin, semua kebaikan dan ketulusanmu dalam membantu kegiatan seni, moga jadi ibadah yang dapat memuluskan perjalan untuk bertemu denganNya. Amin.

(d. rifai harahap.)

Minggu, 15 Agustus 2010

PANCAROBA BELUM MAKSIMAL

Bulan juli 2010 lalu Roy Moningka mencoba untuk memberanikan dirinya mementaskan karya sendiri di gedung utama TamanBudaya Medan. Bersama sekitar 20-an pemain baru, Roy coba menafsirkan masalah kehidupan lewat pertunjukan yang sebenarnya dapat membuat penonton mengekrutkan dahi. Roy berekspriment tentang keberadaan manusia. Sayang Roy sendiri tidak memahami makna dari kehidupan yang tengah ia lalui.

Hidup adalah tanda tanya. Tapi manusia tahu kemana arah tanda tanya itu. Begitu lahir anak manusia, ia akan tumbuh dan membesar sesuai kodrat yang tak dapat dihindari. Pancaroba seorang anak manusia dan kematian sebenarnya bukan tanda tanya buat manusia. Tapi lewat pertunjukan teater multi medianya Roy, apa yang ditampilkan terlalu encer sebagai sebuah pertunjukan teater masa kini yang menghidang begitu banyak pertanyaan-pertanyaan.

Roy ingin menampilkan sesuatu yang sangat dalam dari yang bernama manusia. Sayang Roy sendiri tak mampu mewujudkan hal yang sedang bergejolak di dalam batinnya. Roy belum menemukan dirinya sendiri.

erha